Sebuah kehormatan, menjadi satu di antara puluhan netizen dari kota-kota besar di Indonesia dalam ajang Netizen Gathering MPR RI 2015. Mengambil tempat di Solo, acara dibuka langsung Kepala Biro Humas MPR RI saat itu, Bapak Maruf Cahyono --saat ini beliau menjabat sebagai Sekjen MPR RI. Dilanjutkan dengan diskusi seputar sosialisasi 4 Pilar MPR, dimana diskusi tersebut terbagi dalam dua kelompok. Satu kelompok membahas media yang akan digunakan, satunya lagi membahas konten yang akan disuguhkan. Selesai diskusi acara berlanjut ke trip keliling Solo. Keraton Surakarta, Kampung Batik Laweyan dan pusat oleh-oleh Solo menjadi jujukannya. Serangkaian acara tersebut ditutup dengan penyampaian hasil diskusi.
Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts
Thursday, February 25, 2016
Sunday, May 17, 2015
Eksplorasi Kalimas Ini Aku Beri Nama 'Tour de Kalimas'
Semenjak mengetahui bahwasannya pada bulan Mei 2015 ini akan digelar Festival Kalimas, langsung terbesit ide untuk mengeksplor lebih dekat lagi sungai yang memiliki arti penting bagi Kota Surabaya ini. Sebenarnya sudah sering sih melintas di jalanan dekat Kalimas tapi kok kurang greget aja rasanya kalau hanya lewat saja. Kaki-kaki ini rasanya sudah gatal untuk berkunjung ke beberapa lokasi yang letaknya berada di sekitar Kalimas. Apalagi mumpung lagi long weekend, tak ada salahnya untuk berwisata di sekitar sungai yang menjadi cikal bakal penamaan Surabaya ini.
Aku merencanakan eksplorasi Kalimas ini dimulai pada tanggal 16 Mei 2015, sekalian melihat pembukaan Festival Kalimas. Acara pembukaannya berlokasi di kompleks Monumen Kapal Selam (Monkasel). Sampai di Monkasel menjelang Maghrib ternyata acara pembukannya masih belum dimulai. Akhirnya aku putuskan untuk berkeliling kompleks Monkasel. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu, aku sudah bisa masuk area Monkasel. Sudah lama nian aku tidak berkunjung ke tempat ini, tak ada yang berbeda memang dengan saat terakhir aku datang. Sesuai dengan namanya, tempat ini menyimpan monumen kapal selam Pasopati dengan nomor lambung 410. Monumen ini menjadi monumen kapal selam terbesar di Asia Tenggara.
| Monumen Kapal Selam tampak gagah di malam hari. (Dok. Pribadi) |
Langsung saja aku memasuki area dalam kapal selam ini. Dari luar sudah tampak megah dengan balutan warna hijau dan hitam khas militer. Bentuknya masih terlihat utuh baik luar dan dalamnya, di dalamnya terbagi dalam beberapa bagian ruangan. Kapal selam ini berperan dalam menjaga kedaulatan hukum kelautan Indonesia pada masanya dan mengambil andil dari Operasi Trikora. Saat berada di dalam kapal selam ini seolah kita berada di dalam kapal selam sesungguhnya --meskipun tak secanggih kapal sekarang zaman sekarang, bedanya yang satu ini tidak berada di dalam perairan. Aku dapat melihat langsung ruangan peluncuran torpedo dan mencoba mengintip keadaan luar dengan periskop. Masih ada pula tempat tidur para ABK dilengkapi dengan foto mereka yang pernah bertugas dalam kapal selam ini.
Di kompleks Monkasel tersedia wahana Video Rama yang menayangkan video seputar sejarah kapal selam dan perkembangan maritim di Indonesia mulai zaman dahulu, serta pengenalan TNI Angkutan Laut. Saat melihat video disana aku langsung teringat dengan almarhum kakek yang dulunya seorang TNI Angkatan Laut. Kurang lebih selama 15 menit kita disuguhkan visual yang menurut aku bikin merinding. Selain itu masih ada kafetaria, toko souvenir, panggung hiburan dan kolam renang. Berhubung sudah malam, kolam renangnya tutup.
| Menonton video dokumenter dulu ah. (Dok. Pribadi) |
| Suasana sebelum pembukaan Festival Kalimas. (Dok. Pribadi) |
Tak terasa waktu telah mendekati acara pembukaan festival. Tampak kerumunan warga yang sudah menanti di tepian sungai. Acara pembukaan festival pun dimulai dan ditandai dengan pengibaran bendera start oleh Ibu Risma di tengah Kalimas dengan menaiki perahu karet. Acara dilanjutkan dengan iring-iringan perahu kano dan perahu dayung naga. Hiburan tembang-tembang lawas kian menyemarakkan suasana acara. Terlebih saat lagu Balada Kalimas dinyanyikan.
Sesampainya di rumah, sepulang dari Festival Kalimas aku lantas membuat agenda eksplorasi Kalimas keesokan harinya. Eksplorasi kali ini aku beri nama khusus, yakni Tour de Kalimas. Biar kelihatan keren sedikit gitu, berwisata menikmati sungai khas Surabaya. Beberapa lokasi pun sudah diagendakan, tinggal dieksekusi besoknya. Ya, mungkin 'Tour de Kalimas' versi aku ini dapat juga dijadikan referensi alternatif wisata di Surabaya. Beberapa referensi sebenarnya ada yang telah aku lakukan sebelumnya, tapi akumulatifkan dalam 'Tour de Kalimas' ini. Sekali-kali berwisata dengan lokasi yang berbeda, sudah terlalu mainstream liburan ke mall.
Menyusuri Bantaran Kalimas
Minggu (17/5) pagi bersama adek-adekku, kami berangkat menuju Taman Prestasi. Taman yang berada di tepian Kalimas sisi Genteng Kali ini menjadi tempat jujukan warga Surabaya untuk berlibur murah meriah. Sebenarnya masih ada taman-taman lain yang letaknya berada di dekat Kalimas juga, seperti Taman Buah, Taman Ekspresi atau Taman Keputran. Bahkan taman yang pernah menyabet penghargaan se-Asia Pasifik pun letaknya tak jauh dari Kalimas. Masing-masing taman ini memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Taman Buah misalnya dipenuhi dengan aksen buah-buahan dengan air mancur ditengahnya. Berhubung lokasinya yang dekat rumah dan sambil bernostalgia masa kanak-kanak, akhirnya akan memilih Taman Prestasi sebagai tempat pertama 'Tour de Kalimas'.
| Taman Prestasi yang dipenuhi pengunjung segala usia. (Dok. Pribadi) |
| Perahu biru ini kan membawamu menyusuri Kalimas. (Dok. Pribadi) |
Taman Prestasi menyediakan area bermain bagi anak-anak, amphiteater terbuka, broadband learning center --tempat belajar teknologi informatika dan komunikasi, dan masih banyak lagi. Setelah menemani adek-adekku tercinta bermain, aku mengajak mereka untuk menyusuri bantaran Kalimas. Dengan mengeluarkan uang sebesar Rp 4 ribu per orang sudah dapat menikmati wahana ini, murah meriah kan. Perahu berwarna biru ini diisi penuh dengan pengunjung lainnya, kebanyakan mereka yang telah berkeluarga mengajak anak-anaknya naik perahu. Saat itu trayeknya dimulai dari dermaga yang berada di Taman Prestasi hingga sampai di Taman Ekspresi berbalik arah kembali ke dermaga keberangkatan. Sekitar 10 menit kita dapat menikmati pinggiran Kalimas, melihat kendaraan berlalu lalang, Taman Ekspresi yang tak jauh dari Taman Prestasi hingga area belakang Gedung Grahadi dari atas perahu.
Pengunjung yang berada di taman ini juga dapat berkeliling di sekitar area luar taman menaiki delman atau kereta kelinci. Tak jarang pertunjukan topeng monyet dan beberapa komunitas ada disana. Taman ini selalu dipadati pengunjung, mulai pagi hari hingga malam hari. Tak pernah sepi. Ketika malam hari kita akan ditemani hiasan lampu yang ditata apik.
Tempat Unjuk Kreatifitas Arek-Arek Suroboyo
Setelah dari Taman Prestasi, aku langsung bergegas ke Skate and BMX Park. Sebelumnya aku telah memulangkan adek-adekku, karena tidak mungkin kalau 'Tour de Kalimas' ini dilanjutkan dengan membawa anak kecil. Letaknya bersebelahan dengan Monkasel dan mudah dijangkau. Patung Suro dan Boyo menjadi point of interest dari tempat ini. Patung tersebut menyemburkan air yang langsung terjun Kalimas. Patung ini hampir sama dengan patung Suro dan Boyo yang berada di depan Kebun Binatang Surabaya. Di tempat ini selalu ramai didatangi muda-mudi Surabaya. Ada yang bermain skateboard atau sepeda BMX, berlatih tari dan masih banyak lagi. Seakan tempat ini menjadi tempat yang pas sebagai media unjuk kreatifitas arek-arek Suroboyo. Trek-trek untuk pecinta skate atau BMX juga tersedia disana.
![]() |
| Aktivitas di Skate and BMX Park. (Dok. Pribadi) |
| Suasana malam di Skate and BMX Park . (Dok. Pribadi) |
Disana aku hanya menikmati Kalimas dari pinggir Skate and BMX Park. Dengan lansekap jalan bertingkat dan ditemani angin semilir membuat betah berada disana. Bicara tentang ujuk kreatifitas, sesekali di Kalimas ini diadakan lomba dayung. Kebetulan saat itu Festival Kalimas masih berlangsung jadi tampak perahu dayung naga yang berlomba. Mengasyikkan melihatnya, menyemangati dari tepi sungai.
Makan di Tepi Kalimas
Ada beberapa tempat kuliner yang dapat dipilih di sekitar Kalimas, seperti Sate Ondomohen atau Pecel Ponorogo Hj. Boeyatin. Atau memilih makan di tepi Kalimas, akan menjadi sensasi yang berbeda makan di dekat sungai. Sentra PKL di Taman Prestasi, Skate and BMX Park atau sekitar Kayoon menjadi alternatif lain. Jadi ketika lapar menghadang saat 'Tour de Kalimas' bisa incip-incip makan disana deh. Aku yang telah membeli jajanan bernama Selorotan khas Tuban di Taman Prestasi pagi tadi memutuskan untuk berwisata kuliner dulu. Tetapi aku pernah beberapa kali menikmati sop buah di Sentra PKL Taman Prestasi. Kalau malam suasananya bertambah romantis dengan sorotan lampu remang-remang. Duh, sayang aku jomblo.
| Makan di tepi Kalimas. (Dok. Pribadi) |
![]() |
| (Kiri) Sate Ondomohen dan (Kanan) Sentra PKL Taman Prestasi tetap buka saat malam hari. (Dok. Pribadi) |
Berbelanja atau Window Shopping?
Tenaga sudah di-recharge dengan makan di tepi sungai, saatnya kita berbelanja. Kalau lagi tidak berduit, sebaiknya window shopping saja seperti aku. Beberapa pusat perbelanjaan terletak di dekat Kalimas, contohnya Grand City Mall, Plaza Surabaya dan Jembatan Merah Plaza. Aku lebih suka di Jembatan Merah Plaza, selain murah ada tempat favorit yang berada di dalam plaza yang terletak tak jauh dari Jembatan Merah. Ialah foodcourt-nya, bukan hanya menu yang ditawarkan tetapi saat makan disana kita dapat menghadap ke Kalimas dengan tampilan yang lebih vintage dengan gedung-gedung jaman dahulu yang kian melengkapinya. Dari sini terlihat samar-samar aktivitas pelabuhan dari crane tower yang menjulang tinggi.
A photo posted by MF ROSIY (@mfrosiy) on
Berbelanja di Jembatan Merah Plaza terbilang cukup lengkap. Mulai dari pakaian, perabotan rumah tangga, aneka camila, dan lain sebagainya. Ada lokasi lain yang berada di dekat Jembatan Merah Plaza. Tugu Pahlawan, Museum Bank Indonesia, Museum House of Sampoerna, Pasar Turi dan Museum Kesehatan. Jadi ketika berada di Jembatan Merah Plaza sebelum atau sesudah belanja kalian dapat berkunjung ke lokasi yang telah disampaikan sebelumnya.
Wah, ternyata banyak ya lokasi yang seru dan mengasyikkan di sekitar Kalimas. 'Tour de Kalimas' ini ditutup dengan berkunjung ke Jembatan Petekan. Terlihat sederhana memang, tetapi jika ditelisik lebih jauh. Pada jaman dahulu jembatan layang ini dapat dibuka-tutup menyesuaikan dengan kapal yang melintas di atas Kalimas.
Kalimas menjadi alternatif baru dalam menikmati liburan di Surabaya, semacam wisata sungai gitu. Oh ya, sampai kelupaan saat ini kondisi Kalimas terlihat bersih dari sampah. Saat berwisata di Kalimas hal yang terpenting yang perlu diperhatikan adalah jangan membuang sampah sembarangan.
Buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan, di masing-masing lokasi banyak kok tempat sampahnya. So, still keep cleaniless please!
Berhubung sangat banyaknya referensi untuk berwisata di Kalimas, pasti dibutuhkan moda transportasi yang memadai. Biasanya sih aku menggunakan sepeda motor untuk menjangkau satu tempat ke tempat lain. Tapi jika disuruh memilih mobil, Toyota Agya-lah pilihanku. City car dengan tampilan eksterior dan interior yang menawan, serta tentunya safety dong. Dilengkapi dengan pilihan warna yang cukup banyak membuatku kian jatuh cinta dengan mobil ini. Meskipun aku masih bisa belum menyetir mobil sendiri.
Berhubung sangat banyaknya referensi untuk berwisata di Kalimas, pasti dibutuhkan moda transportasi yang memadai. Biasanya sih aku menggunakan sepeda motor untuk menjangkau satu tempat ke tempat lain. Tapi jika disuruh memilih mobil, Toyota Agya-lah pilihanku. City car dengan tampilan eksterior dan interior yang menawan, serta tentunya safety dong. Dilengkapi dengan pilihan warna yang cukup banyak membuatku kian jatuh cinta dengan mobil ini. Meskipun aku masih bisa belum menyetir mobil sendiri.
![]() |
| Agya, iritnya luar biasa. (Sumber: Toyota) |
Lengkaplah sudah berwisata di Kalimas. Wisata kuliner, wisata belanja, wisata taman, wisata edukasi, serta wisata sungai semuanya tersedia lengkap. Letaknya berada di tepi Kalimas yang membentang sejauh kurang lebih 12 kilometer dari Wonokromo sampai Semampir Surabaya. Tinggal dipilih saja mau pilih yang mana. Kalimas yang pernah menjadi pusat perekonomian dan perdagangan ini akan lebih hidup dengan kemasan wisata seperti ini.
Terakhir, ada satu kutipan yang iseng aku temukan di Pinterest. Kutipan tersebut berbunyi:
You don't need magic to disappear. All you need is a destination!
Saat berkunjung ke Surabaya. Jangan lupa untuk berwisata di Kalimas, ya.
Selamat berlibur!
Saturday, May 9, 2015
Museum Surabaya, Alternatif Baru Berwisata Sejarah di Surabaya
Tahukah kalian kalau Surabaya baru saja meresmikan museum terbarunya. Tepatnya pada hari Minggu, 3 Mei 2015 yang lalu, museum ini diresmikan langsung oleh Ibu Risma Trimaharini. Diberi nama Museum Surabaya, museum ini menjadi destinasi baru warga Surabaya dan sekitarnya. Benda-benda yang ditampilkan tak jauh dari namanya, yakni benda yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Surabaya.
Usai menyaksikan Parade Budaya dan Bunga yang bertepatan saat peresmian museum ini, aku memutuskan untuk tidak segera pulang. Bersama dua temanku, kami menyempatkan diri untuk menengok seperti apa museum baru ini. Menempati gedung Siola di Jalan Tunjungan No. 1 Surabaya, museum ini sekaligus menjadi upaya untuk mengembalikan identitas Jalan Tunjungan. You-know-lah Jalan Tunjungan ini memiliki nilai historis bagi kota Surabaya dan semenjak abad ke-20 telah menjadi pusat komersial.
| Ini lokomotif bukan sih? |
| Tuh, ada bajaj juga di Museum Surabaya. |
Tampilan gedung yang dahulu bernama White Laidlaw ini pun dipercantik. Sebab, tak hanya Museum Surabaya saja yang menempati gedung ini, tetapi juga akan menjadi kantor beberapa instansi pemerintahan. Di luar gedung, sudah tertata rapi taman lengkap dengan aksen air mancur. Sebelum memasuki area museum, pengunjung akan disambut dengan dua meriam kuno dan sebuah lokomotif berwarna hitam. Museumnya sendiri terletak di lantai 1, dari luar Siola sudah terlihat beberapa benda yang ditampilkan. By the way, tak banyak foto yang sempat diabadikan di museum ini. Maklum, baterai kamera habis digunakan jeprat-jepret parade.
Asyiknya museum ini gratis, tanpa dipungut biaya sepeser pun. Beberapa moda transportasi jaman dahulu terpampang di awal memasuki area museum. Seperti, bemo dan becak. Semakin masuk ke dalam, kita dapat melihat benda-benda bersejarah di Surabaya. Kebanyakan benda-benda tersebut berasal dari aset instansi pemerintah dan sebagian ada yang sumbangan. Arsip-arsip kuno, semisal buku catatan pernikahan dan pemakaman ada disini. Masih ada banyak lagi yang disimpan di etalase kaca.
![]() |
| (Kiri) Koleksi alat ukur tanah kuno dan (Kanan) peralatan pemadam kebakaran. |
| Arsip catatan pernikahan jaman dahulu. Lihat saja warnanya sudah menguning. |
| Arsip-arsip lain yang tersimpan di etalase kaca. |
Cukup banyak benda-benda bersejarah disini, keterangan benda tersebut dapat dilihat di label berwarna oranye yang tersemat di dekat benda tersebut. Trophy penghargaan yang pernah disabet Surabaya turut dipamerkan, bersanding dengan cinderamata dari daerah-daerah di Indonesia dan mancanegara. Banyak juga ya penghargannya.
Ada satu spot menarik disini, yakni deretan foto walikota yang pernah menjabat di Surabaya mulai dari jaman Belanda, Jepang, hingga sekarang. Akhirnya aku tahu siapa walikota sebelum-sebelumnya disini. Meskipun aku mengunjungi museum ini di hari pertama, pengujung yang datang sudah mulai banyak. Ya, aku menjadi salah satu pengunjung pertama museum ini. Saat berkunjung masih terlihat bekas peresmian museum.
| Deretan foto walikota yang pernah menjabat di Surabaya. |
![]() |
| Trophy penghargaan dan cinderamata negara tetangga untuk Surabaya. |
Kedepannya di Gedung Siola ini juga menjadi Sentra UKM dan pusat jajanan. Sekaligus, menjadi tempat pameran dan akan dihibur live perfomance dari seniman Surabaya. Museum ini buka mulai pukul 09.00 hingga 21.00. Alternatif wisata sejarah Surabaya pun dapat dilakukan di Museum Surabaya, Museum Tempoe Doeloe-nya Surabaya.
Saat keluar dari museum menuju parkiran sepeda motor yang ada di luar, depan museum, ternyata ada sebuah mobil pemadam kebakaran atau motor klonteng yang menjadi saksi bisu peristiwa kebakaran di Siola dan menjadi salah satu mobil PMK yang memadamkan api saat itu.
Jangan lupa ikuti Giveaway 2.0 mfrosiy (http://bit.ly/mfrosiyGiveaway), masih coming soon. Tunggu tanggal mainnya...
Monday, March 9, 2015
Menelusuri Sejarah Kota Surabaya Bersama SHT
| Kompleks House of Sampoerna, Surabaya. (Dokumen Pribadi) |
Disebut sebagai kota Pahlawan, maka tak pelak Surabaya menyimpan segudang sejarah kepahlawanan. Banyak gedung peninggalan sejarah menjadi saksi bisu perjuangan Arek-Arek Suroboyo, dari peninggalan tersebut kita dapat menapak tilas bagaimana perjuangan memerangi penjajah pada masanya. Dan semuanya sangatlah menarik untuk kita telusuri satu persatu.
Ada satu solusi menarik bagi kalian untuk menelusuri lokasi-lokasi bersejarah di Surabaya, yakni dengan mengikuti tur Surabaya Heritage Track (SHT). Bermarkas di House of Sampoerna (HoS), kita dapat melenggang dengan gratis mengunjungi beberapa lokasi bersejarah di Surabaya. Jadi, kita dapat jalan-jalan keliling kota Surabaya sekaligus mengenal sejarahnya.
Terdapat beberapa pilihan trayek yang dapat dipilih pengunjung. Trayek ini dibedakan dari hari keberangkatan dan jam keberangkatan, khusus untuk hari Senin jadwal tur ditiadakan. Untuk menikmati layanan tur trayek sejarah ini kalian dapat mengunjungi langsung House of Sampoerna yang terletak di Jl. Taman Sampoerna 6, Surabaya. Karena kuota terbatas yang hanya mampu menampung 20 orang di setiap perjalanannya, maka sangat disarankan untuk melakukan reservasi keberangkatan jauh-jauh hari. Caranya cukup menghubungi kontak yang tersedia di laman resmi HoS: http://houseofsampoerna.museum/ –di dalam laman resminya juga tersedia trayek dan jadwal keberangkatan tur.
| Bus merah mungil ini akan membawamu menelusuri sejarah Surabaya. (Dokumen Pribadi) |
Menggunakan bus bermodel trem berwarna merah nan mencolok kita akan dibawa berkeliling Surabaya. Bermodal dengan tiket perjalanan yang didapatkan dari reservasi sebelumnya, kita dapat menukarkan tiket tersebut dengan visitor tag saat pertama kali menaiki bus. Di dalam bus para pengunjung akan ditemani dengan dua orang yang bertugas sebagai pemandu dan satu orang sopi, mereka bertiga orangnya dijamin asyik-asyik.
Karena pada saat menikmati SHT bertepatan saat akhir pekan dan dimulai dari pukul 13.00, maka trayek yang akan dilewati ialah: Tugu Pahlawan - Gedung Nasional Indonesia - PTPN XI. Tur ini bertajuk Surabaya -The Heroes City, dimana ketiga lokasi tersebut merupakan tempat bersejarah peninggalan peristiwa 10 November, loh! Pada tur kali ini aku juga ditemani sahabat-sahabat baikku. Mereka adalah Muhammad Chilmi dan Intan Eben Tantri. Kami bertiga memilih meluangkan akhir pekan ber-SHT ria karena selain gratis, tur ini juga memberikan wawasan baru mengenai sejarah di Surabaya. Aku juga menyarankan untuk mengambil trayek di akhir pekan karena waktu perjalanannya yang lebih lama dengan yang di hari kerja biasa.
| Salah satu gedung bersejarah di Surabaya. (Dokumen Pribadi) |
Setelah semua pengunjung tur memasuki bus, perjalanan pun dimulai. Bus pun melaju menuju tempat tujuan pertama kita, Tugu Pahlawan. Selama perjalanan si pemandu tak habis-habisnya menjelaskan satu persatu gedung bersejarah yang dilalui oleh bus kita. Tak habis fikir, ternyata gedung-gedung yang sering aku lalui memiliki nilai historis juga.
Tugu Pahlawan, Sebuah Monumen Markah Tanah Surabaya
Dibangun tahun 1951.
Sampailah kita di Tugu Pahlawan. Kebanyakan dari kalian pasti telah mengenal salah satu landmark kota Surabaya ini. Tugu ini dibuat untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.
| Tugu Pahlawan, salah satu landmark kota pahlawan. (Dokumen Pribadi) |
Di dalam kompleks Tugu Pahlawan, kita tak hanya dapat menikmati monumen setinggi 41,15 meter saja. Tapi kita juga dapat bersantai ria di taman dalam kompleks Tugu Pahlawan, megunjungi Museum 10 November, atau juga dapat melihat kembali perjuangan arek-arek Suroboyo yang terukir pada relief yang berada di sekitar gerbang masuk menuju kompleks ini.
Si pemandu pun menjelaskan makna yang terkandung dalam relief yang berjajar di area depan Tugu Pahlawan. Lalu dilanjutkan untuk berkeliling kompleks Tugu Pahlawan. Tepat di bawah tugu, si pemandu menunjuk sebuah penutup yang terbuat dari seng dan membukanya. Ternyata di dalamnya merupakan tempat penyiksaan manusia pada masa penjajahan.
| Tampak luar Museum 10 November. (Dokumen Pribadi) |
Setelah puas mendengarkan sejarah dari si pemandu, aku pun bergegas menuju Museum 10 November yang letaknya berada di bawah permukaan tanah. Harga tiket masuknya pun sangatlah terjangkau dan bagi pelajar seperti dapat masuk secara gratis hanya dengan menunjukkan kartu tanda pelajar saja.
Di dalam museum yang diresmikan pada tanggal 19 Februari 2000 oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid ini menyimpan beberapa peninggalan sejarah. Misalnya, kita dapat melihat foto-foto dokumentasi pembangunan Tugu Pahlawan, diorama perjuangan arek-arek Suroboyo, dan beberapa barang peninggalan pahlawan Surabaya. Disini juga kita dapat mendengarkan pidato penuh semangat dari Bung Tomo. Dan masih banyak lagi peninggalan sejarah yang akan membawamu kembali pada masa lampau. Selesai menikmati Tugu Pahlawan, perjalanan pun dilanjutkan menuju Gedung Nasional Indonesia.
Gedung Nasional Indonesia, Saksi Bisu Pergerakan Nasional di Indonesia
Dibangun pada tahun 1930.
Gedung Nasional Indonesia merupakan salah satu cagar budaya yang terletak di Jl. Bubutan 85-87, Surabaya. Gedung ini menjadi saksi bisu pergerakan nasional di Indonesia. Sebab, gedung ini sempat menjadi tempat pusat pergerakan nasional Partai Indonesia Raya (Perindra) di bawah pimpinan dr. Soetomo, tempat pembentukan Komisi Nasioanl Indonesia (KNI) dan pembentukan Badan Keaman Rakyat (BKR) Propinsi Jawa Timur, Karesidan dan Kota Surabaya, serta okasi terjadinya pertempuran 10 November 1945 antara Arek-Arek Suroboyo dan tentara sekutu.
| Pendopo di kompleks Gedung Nasional Indonesia. (Dokumen Pribadi) |
Di kompleks Gedung Nasional Indonesia, kita dapat melihat pendopo yang pernah menjadi tempat Kongres Indonesia
Raya ke-1 berlangsung. Pada masa perjuangan, pendopo ini digunakan sebagai tempat sidang dan rapat. Dan kini pendopo ini dialihfungsikan menjadi tempat resepsi, pameran foto, dll. Di pendopo ini juga menjadi sejarah persiapan Rapat Samodra yang menentang
larangan Kenpetai.
Bak pendopo Jawa lainnya, di dalam pendopo ini kita akan menjumpai banyak tiang dan beratapkan atap berbentuk limas. Pada bagian dinding pendopo terdapat plakat kata-kata presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Tak lupa foto lawas Dr. Soetomo terpajang di dalamnya.
| Bersama Ibu Murtiningrum (tengah), penjaga makam Dr. Soetomo. (Dokumen Pribadi) |
Makam Dr. Soetomo yang wafat pada tanggal 30 Mei 1938 pun terletak di kompleks ini. Ketika berada di makam kita akan menjumpai sosok wanita tua yang bertugas menjadi penjaga makam, namanya Ibu Murtiningrum. Dari beliaulah, banyak informasi mengenai Dr. Soetomo dan perjuangannya kami dapatkan. Perlu kalian ketahui, Ibu Murtiningrum ini menjadi penjaga makam karena wasiat yang diberikan orang tuanya. Orang tua beliau merupakan salah satu siswa yang diajari oleh Dr. Soetomo. Dan inilah yang membuatku kagum kepada beliau, mau dan mampu menjalankan wasiat yang diberikan orang tuanya. Beliau juga membagikan beberapa lembar fotokopi-an berisikan informasi Dr. Soetomo.
Paviliun tempat Arek-Arek Suroboyo pernah bermarkas pun dapat kita lihat dari kompleks ini. Paviliun yang dibangun tak hanya oleh pejuang Surabaya saja, tetapi juga luar Surabaya. Pada 29 November 1945 markas ini pernah terkena mortir yang menyebabkan bagian selatan paviliun ini hancur dan hingga kini tak ada pembangunan ulang. Sekarang, paviliun tersebut digunakan sebagai tempat STM Bubutan dan kantor media Penyebar Semangat.
Gedung PTPN XI, Gedung Megah Peninggalan Belanda
Dibangun pada tahun 1911.
Akhirnya sampailah kita ke tujuan akhir trayek kali ini, yakni Gedung PTPN XI. Pertama kali memasuki kompleks gedung ini kita akan disambut dengan hamparan taman yang hijau, lantas kita akan melihat gedung dengan gaya arsitektur Belanda yang dijamin cocok banget buat foto pre-wedding.
Gedung PTPN XI ini semula bernama gedung Namblosde Venotschaaf Handels Vereeniging Amsterdam, sebuah perusahaan perkebunan milik Hindia Belanda yang mengontol produksi gula. Pada 1958, setelah pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi perusahaan perkebunan asing milik Hindi Belanda gedung ini berganti nama menjadi gedung PTPN XI hingga sekarang.
| Bagian depan Gedung PTPN XI yang asri. (Dokumen Pribadi) |
Gedung yang terletak di Jl. Merak 1, Surabaya, ini pertama menjadi lokasi perundingan antara Moestopo dan AWS Mallaby, sebelum terjadinya peristiwa 10 November terkait ancaman sekutu kepada rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata. Gedung ini juga pernah menjadi markas BKR di bawah pimpinan Drg. Mustopo, sertama markas angkatan darat Jepang pada jaman pendudukan.
Hal unik dari gedung ini ialah pembagian gedung menjadi tiga bagian yang dipisahkan oleh retakan selebar kurang lebih 3 cm yang berfungsi sebagai sistem keamanan. Dahulunya tanah di tempat bangunan ini didirikan merupakan tanah rawan yang memungkinkan bangunan bergeser. Atas dasar itu, dibuatlah retakan seperti itu pada bangunannya untuk mengurangi pergeseran. Jadi, semisalnya terjadi pergesaran bangunan akan tetap bisa berdiri kokoh. Retakan ini memanjang dari depan ke belakang dan atas ke bawah.
Gedung ini memiliki bentuk simetris dengan bagian sayap kiri dan kanan. Bangunan setinggi dua lantai ini merupakan salah satu bangunan terbesar pada jamannya dan konon menghabiskan sekitar 3000 meter kubik beton dan beberapa materialnya didatangkan langsung dari Belanda dan Itali. Hebatnya lagi, gedung ini belum pernah direnovasi sampai sekarang dan tetap berdiri kokoh.
| Salah satu sudut ruangan Gedung PTPN XI. (Dokumen Pribadi) |
Hal yang aku suka dari gedung ini selain arsitekturnya yang memukai, suasanan dingin di dalam gedung membuat aku dan pengunjung lainnya betah berlama-lama berada di dalamnya. Oh ya, hal yang menarik lainnya adalah di dalam gedung ini juga terdapat lorong bawah tanah. Si pemandu pun menunjukkannya kepada para pengunjung. Saat keluar dari kompleks ini, aku bertemu dengan beberapa satpam yang bercerita bahwasannya di gedung juga menyimpan cerita mistis.
Disebabkan waktur tur yang sebentar lagi usai, para pengunjung tur pun bergegas kembali menuju bus untuk kembali ke tempat keberangkat pertama di House Sampoerna. Sekembalinya di House of Sampoerna kalian juga dapat menikmati beberapa fasilitas yang tersedia. Seperti, mengunjungi museum rokok yang didalamnya bila beruntung kita akan menjumpai pembuatan rokok secara langsung oleh para pekerja wanita yang berjumlah kurang lebih 400 orang. Untuk memasuki museum ini kalian harus berumur di atas 18 tahun atau di bawah pengawasan orang tua. Jujur saja, meskipun aku sering mengunjungi HoS dan menaiki SHT, aku belum pernah sama sekali masuk ke museum rokok ini.
So, buat kalian yang akan dan sedang berada di Surabaya jangan lupa untuk menikmati tur gratis ini. Selain tanpa dipungut biaya, kalian juga akan mendapatkan sensasi berbeda dalam mengenal sejarah di Surabaya. Aku aja yang sejak lahir sudah di Surabaya belum sepenuhnya mengenal sejarah kota sendiri secara tuntas dan melalui tur ini sedikit demi sedikit pengetahuanku pun bertambah. Aku tunggu kedatangan kalian ke Surabaya!
Semua keberangkatan tur dari House of Sampoerna.
Surabaya Heritage Track (SHT) –House of Sampoerna (Hos)
Jl. Taman Sampoerna 6, Surabaya 60163
Jawa Timur, Indonesia
Tel. +62 31 353-9000
Fax. +62 31 353-9009
E-mail: hos.surabaya@sampoerna.com
Fax. +62 31 353-9009
E-mail: hos.surabaya@sampoerna.com
| Tur Regular | Hari | Waktu |
| Weekday | Selasa - Kamis | |
| Surabaya - The Heroes City (Heroes Monument - PTPN XI) | 1. 09:00 - 10:00 | |
| Surabaya - The Trading City (Hok Ang Kiong Temple - Escompto Bank) | 2. 13:00 - 14:00 | |
| Surabaya during The Dutch Occupation (Kebonrojo Post Office - Kepanjen Church - Ex. De Javasche Bank) | 3. 15:00 - 16:30 | |
| Weekend | Jum'at - Minggu | |
| Exploring Surabaya (Balai Pemuda - City Hall - Ex. De Javasche Bank) | 1. 09:00 - 10:30 | |
| Surabaya -The Heroes City (Heroes Monument - GNI - PTPN XI) | 2. 13:00 - 14:30 | |
| Babad Surabaya (Kampung Kraton - City Hall - Cak Durasim) | 3. 15:00 - 16:30 | |
Semua keberangkatan tur dari House of Sampoerna.
** Terdapat juga tur-tur bertema atau theme tour –misalnya, tur memperingati Imlek dengant trayek lokasi pecinan di Surabaya– yang selengkapnya dapat dilihat laman resmi HoS: http://houseofsampoerna.museum/
Referensi :
1. "House of Sampoerna, Museum Keren dari Surabaya", Detik Travel. Diakses 2015-03-09.
2. "Tugu Pahlawan", Wikipedia. Diakses 2015-03-09.
3. "Gedung Nasional Indonesia (GNI)", inilahsurabaya's Blog. Diakses 2015-03-09.
4. "Gedung PTPN XI", inilahsurabaya's Blog. Diakses 2015-03-09.
Sunday, June 29, 2014
Pantai Pulau Merah, 'Hidden Paradise' di Banyuwangi
Siapa yang tak suka pergi ke pantai? Apalagi mendatangi sebuah pantai dengan hamparan pasir putih nan halus dengan lautan yang bersih. Dihiasi nyiur melambai serta pohon pandan pantai, tak mau kalah pula barisan perbukitan yang tertata rapi bak lukisan yang telah digambarkan sempurna oleh Sang Pencipta. Begitupula aku. Di awal Juni yang lalu, aku dan keluarga berkesempatan berlibur ke Banyuwangi yang notabene merupakan kabupaten paling ujung di Jawa Timur. Banyuwangi kini telah masyur dikenal para wisatawan, baik dari pesona alam dan khazanah budaya yang patut untuk diketahui. Bagi kita yang pernah berpergian ke Bali melalui jalur darat pasti sudah pernah menginjaki kabupaten ini, meskipun hanya lewat saja.
Kembali ke pantai. Banyuwangi menyimpan banyak pantai eksotis yang wajib dikunjungi bila berkesampatan melipir kesana. Tak mau kalah dengan Hawaii, Banyuwangi mempunyai pantai yang menjadi spot favorit para peselancar, baik lokal maupun dunia. Pantai Plengkung atau G-land namanya. Namun, kali ini aku tidak membahas pantai tersebut karena pada saat ke Banyuwangi aku dan keluarga tidak sempat mengunjungi pantai tersebut. Kami hanya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Pantai Pulau Merah dan Pantai Blimbingsari saja.
| Ini Pantai Pulau Merah, bung! Banyuwangi punya! |
Destinasi pertama yang kami kunjungi yakni, Pantai Pulau Merah. Saat pertama kali mendengar nama tersebut terlintas bayangan bahwa letak pantai tersebut harus ditempuh di sebuah pulau. Tapi, nyatanya tidak. Ternyata nama pulau tersebut diambil dari bukit hijau dengan tanah merah yang berada di dekat bibir pantai. Katanya sih, pada musim kemarau akan terlihat kemerahan akibat pantulan cahaya matahari di sore hari. Dan kita dapat mengakses bukit tersebut kala air surut. Letaknya yang berada di selatan Banyuwangi sangat mudah dijangkau karena selama perjalanan kita akan ditolong oleh beberapa palang penunjuk jalan yang setia memberitahukan kami kemana arah yang benar. Kurang lebih 80 km jarak yang harus ditempuh dari pusat kabupaten. Atau tepatnya pantai tersebut berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Selama perjalanan kita akan disuguhi pemandangan perbukitan dan ladang penduduk setempat. Banyuwangi terkenal dengan tanaman jeruk dan buah naga, terbukti dari setiap ladang yang kami lewati pasti ditumbuhi tanaman tersebut.
| Ujung dari pantainya. Itu yang hitam-hitam batuan karang. Keren kan! |
Sesampainya di lokasi tersebut, kita akan bertemu beberapa anak muda yang bertugas sebagai petugas pintu masuk pantai. Harga yang ditawarkan pun terjangkau, pada saat itu aku dan keluarga yang berjumlah 7 orang dikenakan tarif Rp 30ribu. Itupun katanya sudah didiskon, nahloh ini mau ke pantai apa pusat perbelanjaan. Tarif pastinya pun aku tak sebegitu mengerti karena tidak diberi tiket masuk, jadi habis disuruh bayar langsung tancap gas untuk parkir. Kami disambut dengan pohon rindang yang menjulang tinggi, sebelum masuk ke pantai. Kami sekeluarga yang sudah tak sabar langsung berhamburan ke pantai dengan antusias. Pemandangan disana sangat, sangat, dan sangat indah sekali. Lautannya yang bersih dan bening, serta hamparan pasir pantai kecoklatan terhampar luas sejauh kurang lebih 3km. Adik-adikku yang kebetulan ikut bersama kami langsung berlarian ke pantai, bermain dengan cipratan air laut. Tenang saja, disana ada beberapa lifeguard yang sigap mengawasi pengunjung yang bermain di pantai.
![]() |
| Kursi bersantai, tinggal pilih. Tapi jangan lupa bayar hehe. |
Di bibir pantai tersebut berjejer kursi santai berpasangan dengan payung merah merona. Eiiitss.... Jangan asal duduk dulu, karena kursi santai tersebut disewakan. Harganya sekitar Rp 20ribu untuk satu jamnya, tapi herannya aku menikmati kursi santai tersebut lebih dari satu jam tetapi tidak dikenakan tarif tambahan. Ini untung apa sebenarnya gratis sih, yang bego siapa sekarang? Hehe. Whatever-lah yang penting pantainya bagus. Aku yang memiliki jiwa fotografer amatiran langsung berputar-putar lokasi untuk mencari spot foto yang bagus. Tetapi, tak usah dicari sih karena semua spot di pantai tersebut dijamin bagus semua. Banyak turis lokal maupun dunia yang berkeliaran di pantai, menyusuri pantai yang halus. Ada yang sendiri, berpasangan hingga rombongan seperti aku dan keluarga.
| Perahu yang warnanya mencolok banget. |
Serunya lagi pantai tersebut panasnya tidak begitu terik, mungkin dikarenakan saat itu cuaca yang cukup berawan atau tanaman yang rindang atau bahkan hembusan angin laut. Entahlah pokoknya adem aja. Aku pun menyusuri bibir pantai yang berhiaskan nyiur melambai serta pohon pandan pantai yang tumbuh dengan kokoh. Saat di depan bukit 'Pulau Merah' tersebut terdapat beberapa buah perahu nelayan. Mungkin itu dibuat untuk menyeberang ke batuan karang tersebut. Mungkin sih, soalnya selama disana tidak ada yang menggunakan perahu tersebut. Terlihat pula beberapa anak asal daerah tersebut yang dengan berani berselancar di deburan ombak yang cukup menggelora, meskipun tak seekstrim G-land. Pantai Pulau Merah pernah digunakan sebagai tempat gelaran kompetisi berselancar tingkat dunia. Oh ya, disana juga tersusun perbukitan yang tak kalah kerennya. Jadi, aku berasa di Hawaii-nya Banyuwangi hehe.
![]() |
| Lapar? Kios jajanan banyak kok. But mostly, es kelapa muda utuh paling recommended. |
Saat lapar menyergap tak usah kalang kabut. Disana telah tersedia beberapa kios yang menyediakan beraneka ragam makanan dan minuman yang siap untuk disantap. Es kelapa muda utuh pun menemaniku menikmati surga tersembunyi di Banyuwangi tersebut. Sungguh nikmat dunia! Di ujung Pantai Pulau Merah kita akan menemui batuan karang yang cantiknya tidak ada duanya. Hati-hati ya saat menaiki batu karang, salah fokus sedikit bisa berabe. Tempat tersebut menjadi spot favorit untuk berfoto-foto ria bahkan ada yang melangsung foto pre-wedding disana loh.
| Pura Segara Tawang Alun. Letaknya agak tersembunyi di antara mess wisatawan. |
Di pantai ini juga terdapat sebuah Pura yang dipergunakan umat beragama Hindu setempat untuk melaksanakan upacara Mekiyis. Kawasan wisata ini dikelola oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, KPH Banyuwangi Selatan. Terima kasih kepada bapak Bupati Abdullah Azwar Anas, selaku bupati Banyuwangi yang telah memberikan perhatian penuh untuk mengembangkan potensi wisata alam ini sejak 2012. Patut diketahui, pada tahun 1990-an kawasan Pantai Pulau Merah rusak diterjang tsunami.
| Sepupuku pun menggila dengan hamparan pasir yang halus. |
Bermain dipantai seolah kita berada di dimensi ruang yang berbeda. Tanpa beban, tanpa macet, tanpa hiruk pikuk kota yang membuat suntuk. Kalian yang belum ke Pantai Pulau Merah atau sedang / akan ke Banyuwangi, jangan lupa sempatkan waktu luang kalian untuk menyusuri pantai tersebut! Dijamin tidak menyesal dan akan nagih, nagih dan terus nagih untuk pergi kesana. Recommended banget! Semoga kedepannya pengelolaan pantai disini lebih baik lagi sehingga tak usah menyeberang ke Bali karena di Jawa Timur sudah ada Pantai Mulai Merah, 'Hidden Paradise'-nya Banyuwangi.
I♥BWI. Ayo gotong royong, mujudaken Banyuwangi lebih baik.
| Narsis sedikit boleh kan:p Pantainya cakep sih. |
“The ocean stirs the heart, inspires the imagination and brings eternal joy to the soul.” – Wyland
Subscribe to:
Posts (Atom)









