Showing posts with label Culinary. Show all posts
Showing posts with label Culinary. Show all posts

Sunday, June 14, 2015

Menjelajahi Kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango 2015


Berkunjung ke Festival Jajanan Bango kita seolah disulap menjadi petualang kuliner sejati. Tanpa harus berkunjung dari satu daerah ke daerah lain, kita sudah dapat mencicipi beragam kuliner dari Barat hingga Timur Nusantara. Tidak percaya? Mari kita buktikan!

Bertempat di 3 kota: Jakarta, Yogyakarta, serta Surabaya, Festival Jajanan Bango kembali lagi digelar pada tahun 2015 ini. Untuk Surabaya, festival ini diadakan di pelataran parkir luar Grand City Mall & Convex, Surabaya pada hari Minggu (31/5) yang lalu. Dibuka sejak pukul 08.00, pengunjung yang datang tak pernah surut. Semua penasaran untuk mencicipi beragam kuliner yang disediakan. Festival Jajanan Bango tak hanyak menyuguhkan sajian kuliner yang beragam dan bikin penasaran untuk dicicipi, tetapi juga menyediakan beberapa atraksi yang sangat menarik.

Kampung Bango, Mengenal Tahapan Pembuatan Kecap Bango

Gapura cantik berwarna hijau dengan aksen atap dan dua miniatur kecap Bango raksasa di samping kanan-kirinya menjadi pintu masuk para pengunjung. Gapura ini menjadi point-of-interest pertama yang sayang untuk dilewatkan. Banyak pengunjung yang memanfaatkan area ini untuk berfoto. Setelah melewati gapura ini petualangan kita untuk menjelajahi kuliner Nusantara pun segera dimulai.



Dari gapura kita langsung disambut dengan beberapa muda-mudi berpakaian tradisional. Lantas, kita diarahkan menuju area Kampung Bango. Disini kita dapat melihat bagaimana Kecap Bango diproses dari awal hingga akhir. Awalnya kita akan diperlihatkan bahan baku pembuatan Kecap Bango. 
  1. Kedelai Mallika varietas kedelai hitam unggulan yang dikembangkan oleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada Bango. Kedelai hitam sengaja dipilih sebagai bahan baku Kecap Bango karena dipercaya lebih gurih daripada kedelai kuning. Penanaman dan penanganan kedelai Mallika ditangani secara serius untuk menghasilkan kualitas yang baik.
  2. Nira gula kelapa. Nira dihasilkan dari bunga kelapa (mayang) belum mekar yang diiris/disayat tipis, kemudian nira akan mengalir tetes demi tetes. Proses pengumpulan ini dilakukan dua kali sehari, di pagi dan malam hari. Sebagai bahan baku Kecap Bango, dipilih gula kelapa yang berkualitas yang dilihat dari penampilan, warna, rasa dan baunya.


Kedua bahan baku tersebut selanjutnya akan diproses melalui 3 tahapan. Tahap pertama, kedelai hitam difermentasikan padat selama 2-4 hari, disusul dengan proses fermentasi cair selama 4-6 bulan. Tahap kedua, ekstrak kedelai yang telah difermentasi kemudian dicampur dengan gula kelapa untuk kemudian dimasak selama 2-3 jam hingga menjadi kecap matang. Setelah melalui tahap pendinginan dan penyaringan, tahapan terakhir yang dilakukan ialah pengemasan.

Masih di area masuk festival, ada area bernama Galeri Bango. Tersaji banyak sekali jenis makanan Indonesia disana, semua tampak menggugah selera makan kita. Sayang, makanan-makanan tersebut hanyalah miniatur saja. Tidak untuk disentuh, cuma untuk difoto. Terpampang juga fakta-fakta mengenai kuliner Indonesia. Serta, terdapat photo corner dan area yang diperuntukan untuk pengenalan aplikasi Warisan Kuliner, aplikasi direktori makanan Indonesia.

Sekarang waktunya kita untuk menjelajahi kuliner Nusantara di Festival Jajan Bango 2015. Sebelumnya, setiap pengunjung akan mendapatkan sebuah leaflet yang berisikan peta situasi festival. Penjelajahan pun kian dipermudah dengan peta tersebut, lebih efisien dan efektif serta tidak takut tersesat.

Jelajah Kuliner Nusantara Dimulai...

Tak kurang 41 jenis makanan ada di festival kuliner yang tahun ini genap ke 10 tahun. Festival Jajanan Bango ada sebagai perwujudan visi dan misi Kecap Bango dalam melesetarikan kuliner Nusantara. Tema yang diambil kali ini ialah "Persembahan Terbaik Untuk Pecinta Kuliner Nusantara". Terpantau dari leaflet yang dibagikan, area kuliner disini terbagi dalam 3 area, yakni Kuliner Terbaik Barat Indonesia, Kuliner Terbaik Tengah Indonesia, dan Kuliner Terbaik Timur Indonesia.

Kuliner Terbaik Timur Indonesia

Aku memulai jelajah kuliner Nusantara dari daerah Timur Indonesia yang meliputi Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Terkenal termahsyur sebagai "Kepuluan Rempah-Rempah", Maluku turut menyumbangkan beragam tanaman asli Nusantara kepada seni kuliner dunia. Seni kuliner kawasan bagian timur Indonesia, dapat dikatakan mirip dengan seni memasak Polinesia dan Melanesia.

Beberapa pilihan yang ada diantaranya adalah Coto Makassar Depot Paraikatte, Nasi Ayam Betutu Depot Singaraja, Ikan Bakar Rica-Rica Depot Tamasha, dan Bebek Tinoransak Depot Manado Citraland. Lalu, masih ada Nasi Kuning Avon Ambon, Nasi Bakar Like Tidar Khas Manado. Nama-nama tersebut terdengar asing ditelingaku.


Ingin rasanya aku mencoba satu per satu masakan tersebut, tapi sayangnya banyak yang sudah habis. Aku sih datangnya sudah menjelang sore. Lain kali mungkin aku bisa mencicipi makanan Timur Indonesia langsung dari tempatnya. Tetapi, hasrat untuk mencicipi kuliner Timur Indonesia terpenuhi dengan Ayam Taliwang yang aku beli. Hebatnya, Ayam Taliwang ini termasuk dalam salah satu kuliner yang tampil di ajang bergengsi World Street Food Congress 2015 di Singapore dan mendapatkan apreasiasi yang baik, lho! Terbukti dari ribuan porsi yang ludes begitu saja saat acara Internasional tersebut digelar.

Ayam Taliwang tersebut aku bungkus dan bawa pulang. Sesampainya di rumah langsung habis dimakan oleh ayahku. Makan Ayam Taliwang menurutnya membuat beliau kembali mengenang masa-masa bekerja di kawasan Bali dan Lombok semasa muda.

Kuliner Terbaik Tengah Indonesia

Di area Kuliner Terbaik Tengah Indonesia tersaji deretan makanan dari daerah Kalimanta, Jawa dan Madura. Aku memilih Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang termasuk dalam Legenda Kuliner Indonesia. Saat akan memesan tampak seorang koki yang sedang meracik nasi goreng dalam wajan besar, porsi nasi gorengnya pun melebihi wajan tersebut. Kuat sekali pikirku sang koki dalam memasak nasi goreng tersebut. Sesuai namanya, rasa nasi goreng tersebut kambing banget! Enak deh pokoknya. Kalau Ayam Taliwang dihabiskan sama ayahku, berbeda dengan nasi goreng ini. Sebagai penggemar berat makanan kambing, ibuku sangat menyukai masakan satu ini.



Selain itu, ada juga Bakso Urat Kikil Pak Kumis, Gado Gado Arjuno, Bandeng Bakar Tanpa Duri Bu Alfa, Rawon Pangat dan Ceker Lapindo Warung Mbak Nik. Serta, Rujak Cingur Sedati Bu Nur. Rujak Cingur-nya diuleg dalam cobek raksasa.

Kuliner Terbaik Barat Indonesia

Entah kenapa setelah membaca leaflet yang dibagikan di area masuk festival, pilihanku tertuju pada deretan menu Barat Indonesia. Dan saat disambangi ternyata benar-benar mengular antriannya. Terpantau yang paling dahsyat antriannya itu Martabak Mesir Resto Sederhana. Meskipun restonya berlokasi di Surabaya, butuh perjuangan ekstra untuk mendapatkan menu yang satu ini. Kita harus rela mengantri berjam-jam lamanya. Aku pun telah membuktikannya. Selama hampir dua setengah jam, aku berdiri mengantri.



Di menit-menit pertama aku masih bersemangat mengantri. Lambat laun, orang yang mengantri di depan atau di belakangku tiba-tiba menyerah begitu saja. Keluar dari barisan antrian. Melihat situasi seperti ini nyaliku sempat ciut untuk benar-benar antri hingga mendapatkan martabak yang aku inginkan. Sabar teramat sabar mengantri akhirnya aku mendapatkan dua kota martabak mesir tersebut. Dan... Aku termasuk dalam pembeli terakhir. Leganya. Rasa dari Martabak Mesir ini benar-benar istimewa. Krispi di luar tetapi tetap lembut di dalamnya. Makan martabak ini kian syahdu saat dicocol di saus cukanya.

Pilihan menu lainnya, ada Soto Padang Surya Gemilang, Mie Ayam Bangka, Nasi Rendang Sayur Kapau Uni Nur dan Nasi Gulai Kikil Ampera Roda Baru. Aku juga sempat mencicipi Pempek Ny. Kamto yang rasanya benar-benar enak. Daging ikannya sangat terasa dan semakin lezat berpadu dengan kuah cuka yang masam.

Legenda Kuliner Indonesia dan Kuliner Pilihan


Sudah selesaikah petualangannya? Tidak dong. Di Festival Jajanan Bango 2015 ini terdapat 10 Legenda Kuliner Indonesia. Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih masuk diantaranya. Disusul Mie Aceh Sabang, Mie Koclok Mas Edi Cirebon, Lontong Balap Pak Gendut Surabaya, Tengkleng Klewer Bu Edi Solo, Sate Klatak Mak Adi Yogyakarta, dan Sate Klatak Mak Adi Yogyakarta. Lalu, Nasi Pindang Pak Ndut, Tahu Tek Telor Cak Kahar Surabaya, Sate Jamur Tiram Cak Oney Yogyakarta, serta Oseng Oseng Mercon Bu Narti. Menu pilihan dari aplikasi Warisan Kuliner tak luput ketinggalan. Bebek Kaleyo lah yang menjadi primadona. Senangnya bisa mencicipi Bebek Kaleyo yang sudah terkenal tersebut di festival ini.

Menjadi Ajang Kumpul Bersama

Terpantau ramai hingga malam, festival ini tak cuma menjadi ajang wisata kuliner semata. Sebab, juga dimanfaatkan untuk ajang berkumpul bersama. Ada yang datang berdua dengan berpasangan, beramai-ramai bersama teman atau formasi lengkap satu keluarga diboyong semua kesana. Pengunjung dibuat terhibur dengan pagelaran kesenian yang turut menyemarakkan festival ini.




"Acara seperti ini sangat bagus keberadaannya. Semoga tidak hanya diadakan setahun sekali, kalau bisa sih beberapa bulan sekali gitu", ujar Malva, salah satu pengunjung Festival Jajanan Bango 2015.

Bagi yang membawa anak-anak tidak dipusingkan kalau anaknya akan rewel. Area bermain disediakan khusus bagi anak-anak. Mereka dapat memainkan beberapa permainan yang telah disediakan atau mewarnai gambar bersama orang tua mereka. Atau bagi yang memiliki bayi yang sedang dalam masa menyusui disediakan tenda khusus untuk tempat menyusui. Dalam festival ini kita juga dapat bertemu dengan kawan lama atau menambah kawan baru. Syukur-syukur kalau bisa dapat jodoh disini kan. Wong yang datang pengungnya sangat buanyak banget.

Sembari menjelajahi kuliner Nusantara di Festival Jajanan Bango 2015, pengunjung disuguhi penampilan dari musisi keroncong dan atraksi tarian tradisional khas Jawa Timur. Pengunjung juga bisa mendapatkan voucher yang dibagikan oleh MC yang atraktif melalui beberapa gimmick yang kian membuat riuh suasana festival.


Pengunjung Membludak, Tetap Tampil Bersih

Ini poin terpenting yang selalu aku perhatikan dari setiap acara yang aku kunjungi. Apalagi kalau bukan kebersihan. Ya, tak jarang ada beberapa acara yang terlihat kotor, sampah ada disana-sini. Tapi berbeda dengan Festival Jajanan Bango, kendati disesaki pengunjung yang sangat banyak mereka tetap memperhatikan kebersihan.



Tampak setiap pengunjung yang selesai makan langsung didatangi petugas yang akan membersihkan meja tersebut. Piring-piring kotor lantas dikumpulkan menjadi satu dan dicuci secara beramai-ramai di area belakang festival. Beberapa petugas juga telah dipersiapkan untuk membersihkan sampah-sampah yang berserakan.

Selanjutnya, disediakan tempat khusus untuk mencuci tangan. Di area tersebut aku melihat sebuah keluarga yang mengajarkan ke anaknya bagaimana cara mencuci tangan yang benar. Toilet-toilet portable pun ada disana. Lengkap deh pokoknya.

Jelajah Kuliner Nusantara Berakhir...

Capek berkeliling dan mengantri di Festival Jajanan Bango 2015. Saat pulang aku tidak membawa tangan kosong, beberapa tentengan aku dedikasikan untuk orang di rumah. Oh ya kelupaan, banyak sekali spot-spot menarik yang menjadi favorit berfoto para pengunjung di festival ini. Mereka yang telah mengupload foto mereka ke jejaring sosial dengan menyertakan tagar khusus akan mendapatkan print out foto erek secara gratis. Jadi, mereka yang tidak berkesempatan hadir dalam festival ini dapat pula memantau euforia acara melalui linimasa jejaring sosial.


Acara seperti sangat ditunggu-tungu keberadaannya. Ini kali pertama aku berkunjung dan benar-benar puas dibuatnya. Disana kita diperkenalkan secara langsung seperti apa sih wujud kuliner Nusantara dari Barat hingga Timur Indonesia yang terkadang hanya kita ketahui namanya saja. Atau kita mengetahuinya dari media cetak dan media massa.

Banyak masakan baru yang aku kenal dan cicipi disana. Sebuah pengalaman baru tentunya saat dapat menjadi petualang kuliner Nusantara tanpa harus berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Menu-menu yang aku cicipi disana ada Bebek Kaleyo, Pempek Ny. Kamto, Martabak Mesir Resto Sederhana, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih dan Ayam Taliwang. Untuk minumannya aku memilih menu dari Es Teller.

Hari itu aku benar-benar puas. Kenyang banget dan semua menunya enak semua! Istimewa....

Sampai berjumpa di Festival Jajanan Bango berikutnya....


PS: Coba berikan caption untuk foto terakhir!

Thursday, May 28, 2015

Kampoeng Steak Express, Makan Nikmat Harga Hemat



Siapa bilang kalau makan steak itu identik dengan sesuatu yang mahal dan harus datang ke sebuah restoran yang elite. Sebab, di Surabaya kalian bisa makan steak enak tapi dengan harga yang terjangkau. Kampoeng Steak-lah tempatnya. Kebetulan di dekat rumahku sudah ada outlet-nya. Bertempat di Jalan Tidar, tempat makan ini mudah dijangkau. Cukup melihat bangunan dengan dominan warna biru dan kuning dan diatasnya terdapat Kampoeng Steak Express.

Saat memasuki Kampoeng Steak Express ini aku lantas memesan makanan di kasir. Berbagai varian steak tersaji disana, ada pilihan meat steak dan crispy steak. Setelah melihat daftar menu, aku pun memilih Tenderloin Steak dan Crispy Chicken Steak, serta Es Soda Gembira untuk minumannya. Total semua pesananku tadi mencapai Rp 59.500. Lah, murah kan? Belum lagi, berhubung sedang ada promo diskon 50% untuk pelajar jadi aku hanya membayar separuhnya saja.

Cara mendapatkan promo diskon pelajar ini cukup mudah, tinggal menunjukkan kartu pelajar atau kartu mahasiswa yang aktif ke petugas kasir. Diskon ini khusus untuk makanan saja dan makan di tempat. Serta, berlaku setiap hari Senin hingga Jumat, mulai pukul 12.00-17.00. Tuh, yang cari tempat makan siang yang menunya ala keBarat-Baratan, datang aja kesini.


Kampoeng Steak Express terbagi menjadi dua lantai, di lantai atas terdapat ruangan ber-AC. Kalau aku sih lebih suka yang dibawa. Tanpa menunggu terlalu lama, pesanan pun tiba. Wih, akhirnya bisa makan steak murah nih. Disini semua steaknya disajikan diatas hot plate yang bentuknya lucu dengan tambahan kentang goreng dan rebusan wortel, jagung, dan buncis. Untuk Tenderloin Steak-nya ditambahkan juga potongan jamur kancing.

Daging Tenderloin-nya empuk dan enak. Saus barbeque-nya pun begitu. Sedangkan untuk Chicken Crispy Steaknya itu ayamnya digoreng krispi terlebih dahulu. Lantas, diguyur saus barbeque. Porsi-nya cukup mengenyangkan, apalagi aku yang makan dua menu sekaligus langsung deh kenyang banget. Es Soda Gembiranya juga cocok banget diminum di tengah panasnya kota Surabaya. Kalau boleh memilih sih, aku lebih suka yang meat steak-nya.



Selain steak, menu lainnya yang tersedia ada spaghetti dan aneka snack. Sedangkan pilihan minumnya ada aneka jus, float dan milkshake. Harga yang ditawarkan murah meriah ya, rasanya juga tidak begitu mengecawakan. Ramah di kantong pelajar seperti aku. Kampoeng Steak ini juga sudah banyak outlet-nya di Surabaya dan sekitarnya.

Kampoeng Steak Express
Jl. Tidar 218A, Surabaya
Jawa Timur, Indonesia

Friday, May 22, 2015

Mie Akhirat, Pedasnya Sampai Level 10

Bagi kalian penggemar makanan berbahan dasar mie atau bercitarasa pedas tak ada salahnya untuk mampir ke Mie Akhirat. Iya, Mie Akhirat, dari namanya saja sudah terkesan unik ya. Mengusung tagline "Nikmatnya Surga, Pedasnya Neraka", selain nikmat makanan disini serba pedas.

Aku mengajak dua teman untuk ber-uji nyali merasakan pedasnya menu yang ditawarkan di tempat ini. Kami memutuskan untuk memilih Mie Akhirat yang berlokasi di Jaalan Citarum 2. Lokasinya mudah dijangkau karena dekat dengan Masjid Al-Falah, Kebun Binatang Surabaya, serta Taman Bungkul. Kendati mengambil tempat yang tidak begitu ramai dilintasi kendaraan, tempat makan satu ini tak pernah berhenti dibanjiri pengunjung.



Tampak banyak meja dan kursi yang disediakan di Mie Akhirat. Semua pemesanan dilakukan di kasir, jadi sekalian dibayar langsung. Setelah membayar pesanan, aku dikasih nomor tunggu pesanan. Di kasir, tampak tampilan berbagai macam menu yang menggoda selera makan kita. Mayoritas menu olahan mie, disini mie-nya terbagi dalam dua jenis. Mie berwarna kehitaman untuk Mie Neraka dan mie berwarna putih untuk Mie Surga. Selain mie, masih ada menu olahan nasi, dim sum, aneka kudapan dan masih banyak lagi.

Untuk kepedasan makanannya dapat disesuaikan dengan selera masing-masing. Tersedia mulai dari level 1 hingga level 10, dimana satu levelnya itu setara dengan 5 cabai. Akhirnya kami memutuskan untuk memesan menu: Mie Neraka Kuah Level 6, Mie Ramen Surga Level 3 dan Mie Surga Kering Level 6. Hanya aku sendiri yang memesan Level 3, kedua temanku berani untuk mencoba yang Level 6.

Mie Surga Kering, lihat tuh cabainnya seperti apa.

Mie Neraka Kuah, yang ini lumayan enak menurutku.


Cukup lama memang menu yang kami pesan tersaji di meja, mungkin karena banyaknya pengunjung pada hari itu. Satu per satu menu pun berdatangan, dimulai dari Mie Surga Kering. Wih, saat melihat punya temanku Mie Surga Kering Level 6 itu cabainya sampai tumpah-tumpah. Dari atas memang terlihat sedikit, tapi saat dibalik ternyata jumlahnya banyak banget. Sajian mie putih ini disajikan dengan ayam cincang, nugget, siomay, keripik pangsit, acar, tomat dan mentimun.

Sedangkan untuk menu satunya lagi Mie Neraka Kuah Level 6, cabainya tidak sebanyak yang kering meskipun sama-sama Level 6-nya. Entah ini menu yang tertukar atau saat memasukkan cabai, cabai-nya kurang. Aku juga sedikit heran saat melihat mie-nya, dari review yang pernah aku baca di blog orang lain itu warnanya hitam pekat. Lah kok ini jadi hitam memudar, ya? Sajian dari mie hitam ini sama dengan mie surga sebelumnya, hanya saja ada tambahan kuah dan warna mie yang membedakan keduanya. Temanku juga menambahkan ekstra somay dan keripik pangsit.

Mie Ramen Surga Level 3 yang aku pesan datang paling akhir. Menu ini disajikan dengan wortel, onion crispy, jamur kuping, chicken strip, crab stick, telur ramen dan nori. Secara komposisi Mie Ramen Surga ini pelengkapnya memang lebih banyak, tapi porsinya tanggung banget. Chicken Strip-nya saja tak lebih dari jari kelingking. Dari segi rasa ketiganya memang standard, tidak ada yang istimewa, Jika disuruh makan disini lagi, aku lebih condong suka Mie Surga/Neraka Kuah ketimbang Mie Ramen-nya.

Mie Ramen Surga, suka chicken strip-nya tapi porsinya kecil banget.

Milk Coffee, minuman susu dengan kopi.

Black Fla Pudding, itu yang hitam-hitam Oreo lho!


Untuk minuman aku memesan satu gelas Milk Coffee dan sebagai penghilang rasa pedas kami bertiga sudah membawa air mineral sendiri. Milk Coffee ini rasanya teramat manis. Rasa susunya pun kalah dengan kopinya. Terakhir sebagai penutup aku ingin mencicipi Black Fla Pudding. Lumayan enak rasanya, sayang paduan tekstur antara puding dan fla-nya menurutku membuat eneg. Fla-nya cenderung seperti bubur.

Aku akui dari segi branding, Mie Akhirat ini memang juara. Terbukti dari namanya yang sudah terkenal luas, tetapi dari segi pelayanan dan menu yang ditawarkan masih perlu ditingkatkan lagi. Memang dari segi harga sangat terjangkau di kantong.  Setidaknya kunjungan pertama ini memuaskan rasa penasaranku dengan Mie Akhirat yang pedasnya sampai Level 10. Untuk urusan selera dikembalikan lagi ke masing-masing individu.


Ini ceritanya lagi nantangin teman buat makan seporsi mie pedas.


Sebenarnya kunjunganku ke Mie Akhirat ini ingin mencoba Benefit Card dari Food Gather yag aku dapatkan saat di SuroboyoFest. Saat aku tanyakan ke kasir ternyata mereka bilang kalo mereka belum dapat informasi mengenai Benefit Card. Terpaksa deh, aku harus melewatkan bonus yang seharusnya aku dapatkan bila membeli diatas Rp 50 ribu. Dan ternyata Benefit Card ini baru berlaku bila kita menghubungi nomor WA yang tercantum dalam daftar merchant yang telah berafiliasi dengan Food Gather.


Mie Akhirat
Jalan Citarum no.2 Surabaya
Jalan Medokan Ayu no.21 Surabaya

Friday, May 15, 2015

Makan Rujak Uleg Sepuasnya Secara Gratis


Siapa yang tidak suka dengan yang namanya rujak? Tua, muda, laki-laki, perempuan, semuanya suka. Jenis rujak pun bervariasi, mau rujak buah, rujak cingur, hingga es krim rujak, ada. Dalam postingan ini akan dibahas mengenai rujak uleg. Sajian dengan aneka sayur dan buah yang disiram dengan saus kacang. Tentunya saus kacang tersebut diuleg.

Di antara kita pasti pernah mencicipi sajian ini, terutama mereka yang tinggal di daerah Jawa Timur. Tetapi pernah gak sih kalian menguleg rujak secara beramai-ramai, bersama ribuan orang dalam serentak. Atau kalau tidak, pernahkah kalian makan rujak uleg sepuasnya dan itu gratis. Pernah tidak?

Kalau belum pernah, kalian harus mengunjungi Surabaya pada bulan Mei. Siapkan waktu luangmu untuk menikmati rujak uleg sebanyak-banyaknya. Ya, pada bulan Mei setiap tahunnya digelar festival yang dinamakan Festival Rujak Uleg. Ribuan peserta turut serta menyemarakkan festival ini. Sesuai namanya, di festival ini para peserta akan menguleg rujak secara bersamaan seperti yang disampaikan sebelumnya.

Pada tahun ini, festival diselenggarakn pada tanggal 10 Mei 2015. Semua lapisan masyarakat kumpul menjadi satu di Jalan Kembang Jepun yang kebetulan menjadi tempat diselenggarakannya festival. Kurang lebih 1300 peserta dari berbagai kalangan turut serta dalam festival ini, mereka mengisi 255 meja yang disediakan penyelenggara. Masing-masing meja mewakili instansi yang mereka naungi. Tak hanya berasal dari dalam Surabaya saja, ada juga peserta yang dari luar kota, luar pulau, bahkan mancanegara.

Ini kali ketiga aku datang pada festival ini, tidak menjadi peserta tapi hanya orang yang menghabiskan rujak saja. Kali pertama aku datang ke festival ini saat masih diadakan di dekat Balai Kota Surabaya. Kali keduanya sudah yang di Jalan Kembang Jepun ini, sayangnya aku datang terlambat. Jadi tidak kebagian deh rujaknya. Dan di kali ketiga ini aku ingin balas dendam, makan banyak rujak uleg.

Sesuai jadwal acara akan dimulai pukul 13.00, tetapi aku sudah datang pukul 12.00 kurang. Meja-meja peserta festival sudah ada terisi ternyata. Di meja tersebut selain dihiasi aneka sayur dan buah, serta bumbu saus kacang, tersemat pula hiasan yang kian mempercantiknya. Sedangkan untuk para pesertanya mereka tampil heboh. Terpantau ada satu pun peserta yang tampil sederhana, semuanya tampil all out dan tematik. Kostum kedaerahan, superhero, sampai berdandan ala hantu ada disana.











Sebelum acara dimulai para peserta dihibur dengan alunan musik dangdut. Mereka lantas berjoget tanpa hentinya, suasana menjadi sangat seru. Kendati ditemani terik matahari yang cukup menyengat tak melunturkan semangat para peserta festival. Layout untuk peserta pun dibagi menjadi dua bagian --sebelah barat dan timur, dipisahkan dengan panggung utama yang sekaligus menjadi tempat hiburan serta para tamu penting duduk. Di tengah kehebohan bergoyang, sosok Ibu Risma selaku Walikota Surabaya tiba. Ini tandanya acara menguleg bersama akan dimulai.

Kerumunan warga yang ingin melihat festival ini berjajar rapi dipinggir area peserta. Warga-warga tadi terlihat sabar menunggu acara dimulai, maklum disana mereka dapat makan rujak uleg secara cuma-cuma. Setelah menyapa para tamu penting, Ibu Risma terlihat menyambangi peserta festival. Dari ujung ke ujung, ia datangi satu persatu.

Sebenarnya para peserta baru boleh menguleg bersama ketika ada aba-aba dimulai. Tetapi tidak untuk delegasi dari luar negeri, mereka telah menguleg sebelum aba-aba. Mungkin mereka sudah tidak tahan berada dibawah terik matahari terlalu lama. Bule-bule tersebut terlihat antusias dalam menguleg bumbu rujak dalam sebuah cobek. Tak ada rasa canggung bagi mereka.

Akhirnya Ibu Risma selesai mendatangi peserta festival. Acara inti pun tiba, yakni Ibu Risma menguleg bersama beberapa tamu-tamu penting dalam satu cobek raksasa. Ini menjadi pertanda atau aba-aba bahwa para peserta lain boleh menguleg juga. Langsung deh, acara semakin bertambah meriah. Para peserta menguleg rujak masing-masing dan hasil ulegan rujak tadi langsung diserbu pengunjung yang sudah menanti di pinggir tadi.

Ramai, ramai, sangat ramai. Jalan Kembung pun dipenuhi dengan lautan manusia. Pengunjung bebas memilih rujak mana yang akan mereka makan. Kendati berdesak-desakkan satu sama lain, tak menjadi penghambat jalannya festival ini. Jutru inilah yang dinanti, semua lapisan masyarakat saling berinteraksi satu sama lain.



















Aku pun mendapatkan empat porsi rujak secara bergantian. Pertama aku mendatangi meja dari Ibis Hotel kalau tidak salah, rujaknya enak disini. Kedua dan ketiga aku lupa dari mana asalnya, sangking ramainya jadi yang dipikirkan hanya harus dapat rujak, harus dapat rujak, dan harus dapat. Terakhir dari Universitas Ciputra, aku ingat betul soalnya disana aku bertemu dengan mentor saat mengikuti kompetisi perusahaan siswa. Uniknya kemasan rujak dibuat berbeda, aneka sayur dan buah ditusuk lalu disiram saus kacang. Lebih praktis. Ingin rasanya mencoba lebih banyak rujak lagi, tapi apadaya kapasitas perut tak sanggup lagi menampung. Kenyang buanget pokoknya.

Overall, dari festival ini tak sekedar menjadi ajang show off kuliner tradisional saja. Tetapi juga menjadi wadah hiburan rakyat. Masyarakat yang datang tampak terhibur dengan adanya festival ini. Bagi kalian yang ingin datang ke festival ini berikutnya, aku menyarankan untuk membawa peralatan makan sendiri dari rumah. Kalau bisa bawa rantang bertingkat, supaya dapat rujaknya banyak. Eh. Dalam hitungan beberapa menit, rujak-rujak tersebut ludes dengan cepat. Bahkan ada beberapa meja yang sudah rapi seperti keadaan semula.

Merasa cukup bersenang-senang di Festival Rujak Uleg ini, aku memutuskan untuk pulang. Saat jalan menuju parkiran dengan tergopoh-gopoh, capek bercampur dengan rasa kenyang. Kapan lagi kan bisa makan rujak uleg sepuas-puasnya dan gratis kan, kalau tidak di festival ini. Oh ya, disana pengunjung juga akan pulang membawa hadiah yang diundi penyelenggara. Tak tanggung-tanggung, satu sepeda motor akan dibawa pulang bagi pengunjung yang beruntung. Wah, lengkap banget ya berkunjung ke festival ini. Sudah dapat makan gratis, eh pulangnya tidak membawa tangan kosong pula. Dan bagi para peserta festival, mereka berlomba-lomba memperebutkan juara 1, 2, dan 3 dengan hadiah uang pembinaan. Bagi rujak dengan rasa terenak pilihan juri akan menjadi pemenangnya.





Sampai berjumpa di Festival Rujak Uleg tahun depan!