Monday, March 9, 2015

Menelusuri Sejarah Kota Surabaya Bersama SHT

Kompleks House of Sampoerna, Surabaya. (Dokumen Pribadi)

Disebut sebagai kota Pahlawan, maka tak pelak Surabaya menyimpan segudang sejarah kepahlawanan. Banyak gedung peninggalan sejarah menjadi saksi bisu perjuangan Arek-Arek Suroboyo, dari peninggalan tersebut kita dapat menapak tilas bagaimana perjuangan memerangi penjajah pada masanya. Dan semuanya sangatlah menarik untuk kita telusuri satu persatu.

Ada satu solusi menarik bagi kalian untuk menelusuri lokasi-lokasi bersejarah di Surabaya, yakni dengan mengikuti  tur Surabaya Heritage Track (SHT). Bermarkas di House of Sampoerna (HoS), kita dapat melenggang dengan gratis mengunjungi beberapa lokasi bersejarah di Surabaya. Jadi, kita dapat jalan-jalan keliling kota Surabaya sekaligus mengenal sejarahnya.

Terdapat beberapa pilihan trayek yang dapat dipilih pengunjung. Trayek ini dibedakan dari hari keberangkatan dan jam keberangkatan, khusus untuk hari Senin jadwal tur ditiadakan. Untuk menikmati layanan tur trayek sejarah ini kalian dapat mengunjungi langsung House of Sampoerna yang terletak di Jl. Taman Sampoerna 6, Surabaya. Karena kuota terbatas yang hanya mampu menampung 20 orang di setiap perjalanannya, maka sangat disarankan untuk melakukan reservasi keberangkatan jauh-jauh hari. Caranya cukup menghubungi kontak yang tersedia di laman resmi HoS: http://houseofsampoerna.museum/ –di dalam laman resminya juga tersedia trayek dan jadwal keberangkatan tur.

Bus merah mungil ini akan membawamu menelusuri sejarah Surabaya. (Dokumen Pribadi)

Menggunakan bus bermodel trem berwarna merah nan mencolok kita akan dibawa berkeliling Surabaya. Bermodal dengan tiket perjalanan yang didapatkan dari reservasi sebelumnya, kita dapat menukarkan tiket tersebut dengan visitor tag saat pertama kali menaiki bus. Di dalam bus para pengunjung akan ditemani dengan dua orang yang bertugas sebagai pemandu dan satu orang sopi, mereka bertiga orangnya dijamin asyik-asyik.

Karena pada saat menikmati SHT bertepatan saat akhir pekan dan dimulai dari pukul 13.00, maka trayek yang akan dilewati ialah: Tugu Pahlawan - Gedung Nasional Indonesia - PTPN XI. Tur ini bertajuk Surabaya -The Heroes City, dimana ketiga lokasi tersebut merupakan tempat bersejarah peninggalan peristiwa 10 November, loh! Pada tur kali ini aku juga ditemani sahabat-sahabat baikku. Mereka adalah Muhammad Chilmi dan Intan Eben Tantri. Kami bertiga memilih meluangkan akhir pekan ber-SHT ria karena selain gratis, tur ini juga memberikan wawasan baru mengenai sejarah di Surabaya. Aku juga menyarankan untuk mengambil trayek di akhir pekan karena waktu perjalanannya yang lebih lama dengan yang di hari kerja biasa.

Salah satu gedung bersejarah di Surabaya. (Dokumen Pribadi)

Setelah semua pengunjung tur memasuki bus, perjalanan pun dimulai. Bus pun melaju menuju tempat tujuan pertama kita, Tugu Pahlawan. Selama perjalanan si pemandu tak habis-habisnya menjelaskan satu persatu gedung bersejarah yang dilalui oleh bus kita. Tak habis fikir, ternyata gedung-gedung yang sering aku lalui memiliki nilai historis juga.

Tugu Pahlawan, Sebuah Monumen Markah Tanah Surabaya
Dibangun tahun 1951.

Sampailah kita di Tugu Pahlawan. Kebanyakan dari kalian pasti telah mengenal salah satu landmark kota Surabaya ini. Tugu ini dibuat untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.

Tugu Pahlawan, salah satu landmark kota pahlawan. (Dokumen Pribadi)

Di dalam kompleks Tugu Pahlawan, kita tak hanya dapat menikmati monumen setinggi 41,15 meter saja. Tapi kita juga dapat bersantai ria di taman dalam kompleks Tugu Pahlawan, megunjungi Museum 10 November, atau juga dapat melihat kembali perjuangan arek-arek Suroboyo yang terukir pada relief yang berada di sekitar gerbang masuk menuju kompleks ini.

Si pemandu pun menjelaskan makna yang terkandung dalam relief yang berjajar di area depan Tugu Pahlawan. Lalu dilanjutkan untuk berkeliling kompleks Tugu Pahlawan. Tepat di bawah tugu, si pemandu menunjuk sebuah penutup yang terbuat dari seng dan membukanya. Ternyata di dalamnya merupakan tempat penyiksaan manusia pada masa penjajahan.

Tampak luar Museum 10 November. (Dokumen Pribadi)

Setelah puas mendengarkan sejarah dari si pemandu, aku pun bergegas menuju Museum 10 November yang letaknya berada di bawah permukaan tanah. Harga tiket masuknya pun sangatlah terjangkau dan bagi pelajar seperti dapat masuk secara gratis hanya dengan menunjukkan kartu tanda pelajar saja.

Di dalam museum yang diresmikan pada tanggal 19 Februari 2000 oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid ini menyimpan beberapa peninggalan sejarah. Misalnya, kita dapat melihat foto-foto dokumentasi pembangunan Tugu Pahlawan, diorama perjuangan arek-arek Suroboyo, dan beberapa barang peninggalan pahlawan Surabaya. Disini juga kita dapat mendengarkan pidato penuh semangat dari Bung Tomo. Dan masih banyak lagi peninggalan sejarah yang akan membawamu kembali pada masa lampau. Selesai menikmati Tugu Pahlawan, perjalanan pun dilanjutkan menuju Gedung Nasional Indonesia.

Gedung Nasional Indonesia, Saksi Bisu Pergerakan Nasional di Indonesia 
Dibangun pada tahun 1930.

Gedung Nasional Indonesia merupakan salah satu cagar budaya yang terletak di Jl. Bubutan 85-87, Surabaya. Gedung ini menjadi saksi bisu pergerakan nasional di Indonesia. Sebab, gedung ini sempat menjadi tempat pusat pergerakan nasional Partai Indonesia Raya (Perindra) di bawah pimpinan dr. Soetomo, tempat pembentukan Komisi Nasioanl Indonesia (KNI) dan pembentukan Badan Keaman Rakyat (BKR) Propinsi Jawa Timur, Karesidan dan Kota Surabaya, serta okasi terjadinya pertempuran 10 November 1945 antara Arek-Arek Suroboyo dan tentara sekutu.

Pendopo di kompleks Gedung Nasional Indonesia. (Dokumen Pribadi)

Di kompleks Gedung Nasional Indonesia, kita dapat melihat pendopo yang pernah menjadi tempat Kongres Indonesia Raya ke-1 berlangsung. Pada masa perjuangan, pendopo ini digunakan sebagai tempat sidang dan rapat. Dan kini pendopo ini dialihfungsikan menjadi tempat resepsi, pameran foto, dll. Di pendopo ini juga menjadi sejarah persiapan Rapat Samodra yang menentang larangan Kenpetai.

Bak pendopo Jawa lainnya, di dalam pendopo ini kita akan menjumpai banyak tiang dan beratapkan atap berbentuk limas. Pada bagian dinding pendopo terdapat plakat kata-kata presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Tak lupa foto lawas Dr. Soetomo terpajang di dalamnya.

Bersama Ibu Murtiningrum (tengah), penjaga makam Dr. Soetomo. (Dokumen Pribadi)

Makam Dr. Soetomo yang wafat pada tanggal 30 Mei 1938 pun terletak di kompleks ini. Ketika berada di makam kita akan menjumpai sosok wanita tua yang bertugas menjadi penjaga makam, namanya Ibu Murtiningrum. Dari beliaulah, banyak informasi mengenai Dr. Soetomo dan perjuangannya kami dapatkan. Perlu kalian ketahui, Ibu Murtiningrum ini menjadi penjaga makam karena wasiat yang diberikan orang tuanya. Orang tua beliau merupakan salah satu siswa yang diajari oleh Dr. Soetomo. Dan inilah yang membuatku kagum kepada beliau, mau dan mampu menjalankan wasiat yang diberikan orang tuanya. Beliau juga membagikan beberapa lembar fotokopi-an berisikan informasi Dr. Soetomo.

Paviliun tempat Arek-Arek Suroboyo pernah bermarkas pun dapat kita lihat dari kompleks ini. Paviliun yang dibangun tak hanya oleh pejuang Surabaya saja, tetapi juga luar Surabaya. Pada 29 November 1945 markas ini pernah terkena mortir yang menyebabkan bagian selatan paviliun ini hancur dan hingga kini tak ada pembangunan ulang. Sekarang, paviliun tersebut digunakan sebagai tempat STM Bubutan dan kantor media Penyebar Semangat.

Gedung PTPN XI, Gedung Megah Peninggalan Belanda
Dibangun pada tahun 1911.

Akhirnya sampailah kita ke tujuan akhir trayek kali ini, yakni Gedung PTPN XI. Pertama kali memasuki kompleks gedung ini kita akan disambut dengan hamparan taman yang hijau, lantas kita akan melihat gedung dengan gaya arsitektur Belanda yang dijamin cocok banget buat foto pre-wedding.

Gedung PTPN XI ini semula bernama gedung Namblosde Venotschaaf Handels Vereeniging Amsterdam, sebuah perusahaan perkebunan milik Hindia Belanda yang mengontol produksi gula. Pada 1958, setelah pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi perusahaan perkebunan asing milik Hindi Belanda gedung ini berganti nama menjadi gedung PTPN XI hingga sekarang.

Bagian depan Gedung PTPN XI yang asri. (Dokumen Pribadi)

Gedung yang terletak di Jl. Merak 1, Surabaya, ini pertama menjadi lokasi perundingan antara Moestopo dan AWS Mallaby, sebelum terjadinya peristiwa 10 November terkait ancaman sekutu kepada rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata. Gedung ini juga pernah menjadi markas BKR di bawah pimpinan Drg. Mustopo, sertama markas angkatan darat Jepang pada jaman pendudukan.

Hal unik dari gedung ini ialah pembagian gedung menjadi tiga bagian yang dipisahkan oleh retakan selebar kurang lebih 3 cm yang berfungsi sebagai sistem keamanan. Dahulunya tanah di tempat bangunan ini didirikan merupakan tanah rawan yang memungkinkan bangunan bergeser. Atas dasar itu, dibuatlah retakan seperti itu pada bangunannya untuk mengurangi pergeseran. Jadi, semisalnya terjadi pergesaran bangunan akan tetap bisa berdiri kokoh. Retakan ini memanjang dari depan ke belakang dan atas ke bawah.

Gedung ini memiliki bentuk simetris dengan bagian sayap kiri dan kanan. Bangunan setinggi dua lantai ini merupakan salah satu bangunan terbesar pada jamannya dan konon menghabiskan sekitar 3000 meter kubik beton dan beberapa materialnya didatangkan langsung dari Belanda dan Itali. Hebatnya lagi, gedung ini belum pernah direnovasi sampai sekarang dan tetap berdiri kokoh.

Salah satu sudut ruangan Gedung PTPN XI. (Dokumen Pribadi)

Hal yang aku suka dari gedung ini selain arsitekturnya yang memukai, suasanan dingin di dalam gedung membuat aku dan pengunjung lainnya betah berlama-lama berada di dalamnya. Oh ya, hal yang menarik lainnya adalah di dalam gedung ini juga terdapat lorong bawah tanah. Si pemandu pun menunjukkannya kepada para pengunjung. Saat keluar dari kompleks ini, aku bertemu dengan beberapa satpam yang bercerita bahwasannya di gedung juga menyimpan cerita mistis.

Disebabkan waktur tur yang sebentar lagi usai, para pengunjung tur pun bergegas kembali menuju bus untuk kembali ke tempat keberangkat pertama di House Sampoerna. Sekembalinya di House of Sampoerna kalian juga dapat menikmati beberapa fasilitas yang tersedia. Seperti, mengunjungi museum rokok yang didalamnya bila beruntung kita akan menjumpai pembuatan rokok secara langsung oleh para pekerja wanita yang berjumlah kurang lebih 400 orang. Untuk memasuki museum ini kalian harus berumur di atas 18 tahun atau di bawah pengawasan orang tua. Jujur saja, meskipun aku sering mengunjungi HoS dan menaiki SHT, aku belum pernah sama sekali masuk ke museum rokok ini.

So, buat kalian yang akan dan sedang berada di Surabaya jangan lupa untuk menikmati tur gratis ini. Selain tanpa dipungut biaya, kalian juga akan mendapatkan sensasi berbeda dalam mengenal sejarah di Surabaya. Aku aja yang sejak lahir sudah di Surabaya belum sepenuhnya mengenal sejarah kota sendiri secara tuntas dan melalui tur ini sedikit demi sedikit pengetahuanku pun bertambah. Aku tunggu kedatangan kalian ke Surabaya!


Surabaya Heritage Track (SHT) House of Sampoerna (Hos)
Jl. Taman Sampoerna 6, Surabaya 60163
Jawa Timur, Indonesia 
Tel. +62 31 353-9000
Fax. +62 31 353-9009
E-mail: hos.surabaya@sampoerna.com
 

Tur RegularHariWaktu
WeekdaySelasa - Kamis
Surabaya - The Heroes City
(Heroes Monument - PTPN XI)
1. 09:00 - 10:00
Surabaya - The Trading City
(Hok Ang Kiong Temple - Escompto Bank)
2. 13:00 - 14:00
Surabaya during The Dutch Occupation
(Kebonrojo Post Office - Kepanjen Church - Ex. De Javasche Bank)
3. 15:00 - 16:30
WeekendJum'at - Minggu
Exploring Surabaya
(Balai Pemuda - City Hall - Ex. De Javasche Bank)
1. 09:00 - 10:30
Surabaya -The Heroes City
(Heroes Monument - GNI - PTPN XI)
2. 13:00 - 14:30
Babad Surabaya
(Kampung Kraton - City Hall - Cak Durasim)
3. 15:00 - 16:30

Semua keberangkatan tur dari House of Sampoerna.
** Terdapat juga tur-tur bertema atau theme tour misalnya, tur memperingati Imlek dengant trayek lokasi pecinan di Surabaya yang selengkapnya dapat dilihat laman resmi HoS: http://houseofsampoerna.museum/



Referensi :
1. "House of Sampoerna, Museum Keren dari Surabaya", Detik Travel. Diakses 2015-03-09.
2. "Tugu Pahlawan", Wikipedia. Diakses 2015-03-09.
3. "Gedung Nasional Indonesia (GNI)", inilahsurabaya's Blog. Diakses 2015-03-09.
4. "Gedung PTPN XI", inilahsurabaya's Blog. Diakses 2015-03-09.

41 comments:

  1. Seru dong kak, gue juga tinggal di Surabaya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, seru banget malah:D Kakanya orang Surabaya juga toh?
      Gimana udah pernah nyobain SHT belum?

      Delete
    2. Wih Surabaya. Kota keren tuh. Pengen sih main kesana, tapi masih masuk sekolah hehe :D

      Delete
    3. Kakaknya sendiri darimana emang asalnya? Ya kalo weekend sekali2 mampir ke Surabaya kan gapapa hehehe:D

      Delete
  2. Wooh.. Ane dari solo. Dulu pernah jalan-jalan keliling Surabaya lihat-lihat museum. Sayangnya HoS adalah destinasi terakhir, baru tahu kalau ada tur pakai bus setelah sampai sana. Menyesal sekali T___T
    Kunjungi ceritaku di Surabaya jika berkenan :D http://ilhambacha.blogspot.com/2015/02/1daytravel-edisi-surabaya-jawa-timur.html#.VP4iOoHGSZQ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi kak, salam kenal ya hehe. Ya, sayang banget ya kak padahal di HoS markasnya SHT tapi gasempat cobain.
      Lain kali kalau Surabaya bisa naik bus wisata SHT aja kak, gratis loh.
      Atau versi dari Pemkot ada yang Surabaya Shopping and Culinary Track.

      Delete
  3. wih seru banget, itu yang aku palings uka. mudah2an bisa mengunjungi Surabya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ke Surabaya jangan lupa coba SHT ya kak:)

      Delete
  4. wah anak KK sby mau rencanain jalan-jalan pake ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikutan dong kalo KK Sby mau jalan2, aku belum pernah kopdar nih:D

      Delete
    2. tapi gak jadi :v ya ntar ikut aja pasti diberitau di fb kalo gak twitter :D

      Delete
  5. Jadi pengen maen ke surabaya :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo dong main ke Surabaya kalau gitu hehehe:D

      Delete
  6. Aku juga belum pernah naik bus ini. Pernah mau daftar, penuh terus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo coba lagi reservasinya, jauh2 hari pasti dapet kok.
      Aku malah pernah sehari ikut 2 trayek tur tanpa reservasi hehehe:D

      Delete
  7. eh keren amaaat. gue dulu pernah ke surabaya, gak kemana-mana sih tapi langsung suka aja pengen tinggal disana. ngeliat ini ternyata makin keren ya :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyayadums Surabaya gitu. Yaudah kakaknya balik ke Surabaya lagi aja.

      Delete
  8. Duh keren juga ternyata yaa... Bisa jalan jalan bersejarah dan nggak capek juga...

    Err, belum pernah ke surabaya sih. Dulu cuma transit sebentar saat pergi ke bali. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak keren, busnya juga di-setting kek tram jaman dulu.
      Yaudah ke Surabaya lagi aja kak.

      Delete
  9. Wah pasti pengalaman yang menyenangkan dan berkesan. Apalagi tempat bersejarah.

    Asik nih lengkap referensinya, kalau gitu sekalian deh saya ajak mengikuti lomba review blog saya mau ga mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar sekali kak. Kita bisa mengenal sejarah dengan mudah.
      Siap meluncur, kalau ada kesempatan pasti ikutan.

      Delete
  10. biasanya klo berhubungan dengan sejarah,,, fotonya itu warna sephia atau bw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini ceritanya foto kekinian kak, jadi fotonya berwarna haha.

      Delete
  11. SHT? pas baca judulnya tak kira Setia Hati Terate hehehe. . .
    salam kenal :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kalo itu PSHT deh mas bukan SHT haha. Lah, kok malah dipertegas nih ama aku.
      Salam kenal juga mas:)

      Delete
  12. mantaap gan kunjungi juga ya

    http://willisangstsetia12.blogspot.com

    ReplyDelete
  13. Biasanya gw ke surabaya cuman numpang lewat, dulu waktu kecil sering ke bonbin sama ayah. Kayanya ntar kalau kesana bisa dicobain tuh, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang dari mana mau kemana kok Surabaya cuma dilewatin doang, kasian kan cuma dilewatin aja.
      Kalo sempat main ke Surabaya nyoba SHT ya);

      Delete
  14. Biasanya gw ke surabaya cuman numpang lewat, dulu waktu kecil sering ke bonbin sama ayah. Kayanya ntar kalau kesana bisa dicobain tuh, :)

    ReplyDelete
  15. Dulu ke Surabaya belum sempat nyobain SHT nih, mudah-mudahan kelak bisa balik ke Surabaya untuk SHT :)

    Salam,
    www.adindut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, kalo balik ke Surabaya jangan lupa nyobain ye hehehe.

      Delete
  16. Wah..seru ya..bisa keliling Surabaya sambil liat bangunan-bangunan bersejarah. Sayang jauh dari Bandung.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget. Kalau lagi main di Surabaya gak ada salahnya loh nyoba SHT:)

      Delete
  17. Wah..seru ya..bisa keliling Surabaya sambil liat bangunan-bangunan bersejarah. Sayang jauh dari Bandung.. :)

    ReplyDelete
  18. Seru, kalo di jogja namanya si Thole, transportasi wisata keliling Kraton

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ternyata di Jogja juga ada ya. Mungkin lain kali aku bisa nyobain yang di Jogja.

      Delete
  19. Kenangan di Surabaya masih ada dalam benakku. Masih ingin datang ke sana lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puitis banget nih kakaknya..... Hayo kenangan apa aja nih?

      Delete
  20. padahal dulu ngantornya di depannya Cafe Sampoerna itu, tapi setiap mau daftar tur slalu overbooking udah huhuhuhu...pengen banget
    apalagi ngeliat gedung PTPN XI yang masih kental arsitektur Belandanya itu..keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa sih, kantornya dekat tapi overbooking mulu. Aku aja pernah ikutan tur tanpa booking malah bisa ikut dua trayek dalam satu hari sekaligus hehe.
      Iya, itu gedung PTPN XI-nya hits banget desainnya. Cucok buat prewed....

      Delete